Jan 08 2010
Gedung Merdeka
Awalnya gedung ini dinamakan Societeit Concordia yang berfungsi sebagai tempat pertemuan eksklusif para pengusaha perkebunan (preanger planters) terutama untuk masyarakat kulit putih (Eropa) dan orang-orang Belanda pada umumnya. Gedung ini dibangun pada tahun 1895 oleh Arsitek Belanda bernama Van Galenlst terletak di suatu rumah mewah antara Jl. Braga dengan Jl. Asia Afrika.
Atas prakarsa arsitek Ir. Charles Proper Wolff Schoemaker maka pada tahun 1921 gedung ini dipindahkan tepat ke seberangnya sedangkan gedung lama dijadikan sebuah toko “De Vries”. Bentuk bangunan Societeit Concordia di tempat baru ini lebih luas namun belum dikembangkannya ke arah samping jalan braga seperti yang terlihat sekarang ini. Baru pada tahun 1939 arsitek kenamaan Belanda, Albert Frederik Aalbers yang juga merancang Grand Hotel Savoy Homann memberikan ciri khas tersebut pada lokasi sudut di Jalan Braga dan Jalan Asia Afrika serta menjadikan Societeit.
Concordia sebagai bangunan monumental yang memiliki ciri tersendiri. Perubahan nama dari Societeit Concordia menjadi Gedung Merdeka dilakukan setelah kemerdekaan negara Republik Indonesia tahun 1945. Bangunan ini memiliki langgam (gaya) Arsitektur yang sangat unik, karena berpadunya dua langgam arsitektural yang sangat berbeda. Pada satu bagian bangunan ini menganut gaya Indo Europeesche Stijl yang berkesan monumental, berwibawa dan anggun tetapi tetap mempertimbangkan kondisi iklim tropis Indonesia, sedangkan di satu sisi bangunan ini bergaya arsitektur Art Deco Streamline, bangunan terlihat polos atau minimnya penggunaan ornamen hiasan pada facade bangunan. Akan tetapi secara keseluruhan massa bangunan ini dapat terlihat berpadu dengan serasi dan tampak indah.
Terowongan Bawah Tanah
Pada usianya yang lebih dari satu abad, gedung ini masih menyimpan banyak cerita. Selain ruangan bawah tanahnya yang penuh tanda tanya, satu terowongan bawah tanah di sekitar ruangan bawah tanah itu juga disinyalir menghubungkan Gedung Merdeka dengan gedung tua lainnya.
Jalan masuk ke ruang bawah tanah di Gedung Merdeka dapat diakses dari pinggir gedung itu, tepatnya dari Jln. Cikapundung Timur. Pintu masuk ruangan bawah tanah berada di depan gedung yang dulunya berfungsi sebagai Perpustakaan Daerah Jawa Barat. Jika tidak saksama, pintu masuk ke ruang bawah tanah tidak akan terlihat. Namun, jika diperhatikan, lorong menurun selebar satu meter dan tinggi sekitar dua meter.
Ruangan paling depan berukuran 3 x 5 meter di ruang bawah tanah itu kini difungsikan sebagai parkir sepeda motor para pegawai pengelola Gedung Merdeka dan Museum Konperensi Asia Afrika (KAA). Tepat di depan ruangan parkir sepeda motor itu akan tampak pintu besar dari bahan besi bercat kuning selebar satu meter, tampak beberapa bagian yang catnya sudah mulai mengelupas. Terdapat dua pintu besi di ruangan itu dan mengarah pada bagian Jln. Cikapundung Timur. Akan tetapi, pintu itu kini telah tertutup oleh trotoar di samping Gedung Merdeka.
Desmon Satria Andrian (31), seorang staf publikasi dan promosi Museum KAA menjelaskan perihal pintu menuju ruangan bawah tanah tersebut. Menurut dia, dua pintu itu merupakan jalan masuk saat para penari hendak pentas di panggung Gedung Merdeka.
“Konon, para penari berdandan di gedung yang sekarang jadi Kantor Front Bela Bangsa (FBB), depan Gedung Merdeka. Setelah berdandan, mereka masuk ke Gedung Merdeka melalui pintu ruang bawah tanah tersebut. Karena dari ruang bawah tanah ada terowongan kecil yang langsung menuju panggung,” ungkap Desmon. Ruang bawah tanah itu berada tepat di bawah ruang VIP VIII Gedung Merdeka.
Bekas penjara
Lebih jauh memasuki ruang bawah tanah, terdapat ruang-ruang kosong yang dilengkapi jendela bulat layaknya jendela kapal selam. Konon, setelah berfungsi sebagai ruang tunggu para penari sebelum naik panggung, ruang bawah tanah ini juga pernah menjadi penjara. “Dahulu sempat ada jeruji-jerujinya, tapi sekarang sudah dilepas. Yang kami tahu, ini dahulu penjara tahanan politik,” kata Desmon.
Melihat ke atas, tampak atap bermotifkan bilik bambu yang dicor semen. Beberapa bagian yang sudah rusak dan noda air hujan yang mengotori putihnya warna langit-langit. Beranjak ke bagian dalam sedikit, terdapat tumpukan meja berwarna hitam dari kayu jati. Meja-meja dari kayu jati itu adalah meja asli yang dipakai para delegasi peserta KAA tahun 1955. Entah mengapa, meja-meja asli yang berjumlah 29 unit itu dibiarkan rusak dan teronggok di sana.
Tiba di penghujung ruang bawah, terdapat pintu kecil yang telah ditutup rapat oleh bata dan semen. Sejumlah pegawai Museum KAA membenarkan adanya lorong yang menghubungkan ruangan bawah tanah itu menuju bagian panggung di ruangan konferensi. Penutupan dilakukan pada 1992, saat KTT Nonblok digelar di gedung itu. Penutupan lorong kecil di bawah tanah itu dengan alasan keamanan para delegasi peserta KTT Nonblok.
Kemungkinan Saling Berhubungan
Lorong bawah tanah yang kini ditutupi batu bata di Gedung Merdeka menimbulkan banyak persepsi bagi orang-orang di sekitarnya. Beberapa orang yang telah lama tinggal atau beraktivitas di sekitar Gedung Merdeka mengakui adanya jalan bawah tanah yang menghubungkan gedung itu dengan gedung lainnya.
Ada juga yang menghubungkannya dengan konteks Konferensi Asia Afrika. Terowongan bawah tanah di Gedung Merdeka menyambung dengan Hotel Savoy Homann untuk jalan akses para delegasi konferensi yang menginap di hotel itu. Namun, pendapat lain menyebutkan bahwa lorong itu menyambung dengan Gedung de Vries yang terletak di seberang Gedung Merdeka.
“Waktu kecil, saya sempat memasuki ruangan bawah tanah di Gedung Merdeka. Banyak tahanan dengan kumis dan janggut yang panjang ditahan di sana. Waktu itu, saya disuruh memberi makan para tahanan itu,” kata Adin (72), pensiunan PNS Dinas Kebersihan Kota Bandung yang kini bekerja sebagai petugas keamanan di Bank OCBC NISP Jln. Asia Afrika. Adin mengaku, tak dapat melihat secara jelas wajah para tahanan itu karena gelap gulita.
“Saya juga diberi tahu bahwa ada terowongan bawah tanah yang menghubungkan ruangan bawah tanah Gedung Merdeka dengan Gedung de Vries. Tapi, pastinya saya tidak tahu,” ujar Adin.
Beberapa pendapat tentang terowongan di bawah Gedung Merdeka itu bahkan lebih liar lagi. Ada yang menyebutkan lorong itu berhubungan dengan Gedung Pakuan, Gedung Balai Kota, hingga Gedung Sate. Pendapat lain yang lebih “liar” bahkan menyebutkan lorong itu menyambung dengan Gedung Isola UPI di Jln. Setiabudhi.
Kepala Museum KAA Isman Pasha mengatakan, pihaknya telah banyak mendengar cerita seputar misteri ruang bawah tanah dan terowongan penghubung gedung ini dengan gedung di sekitarnya.
“Saya pernah dengar ada terowongan yang menghubungkan gedung ini dengan Toko Lido dan Toko Padang (Gedung de Vries). Kemungkinan itu bisa saja,” ungkap Isman. Yang pasti, kata dia, terowongan bawah tanah di gedung itu menghubungkan ruang bawah tanah dengan panggung di ruang konferensi.
Rehabilitasi
Rehabilitasi bangunan Konferensi Asia Afrika (KAA) atau Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika Bandung tertunda. Hal itu dikatakan Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Elias Ginting di Bandung, beberapa waktu lalu.
Dijelaskan, kendala dialami karena ketidakjelasan status pengelola bangunan tersebut menjadi penyebab tidak dapat dicairkannya sejumlah anggaran bagi proses rehabilitasi.
Meskipun, baik Departemen Luar Negeri maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar telah mengalokasikan dana bagi proses rehabilitasi bangunan yang menjadi saksi sejarah Dasa Sila Bandung tersebut.
Menurut Elias Ginting menjelaskan secara kepemilikan, Gedung Merdeka merupakan milik pemerintah pusat yang dititipkan kepada pemerintah daerah, dalam hal ini pemerintah provinsi Jawa Barat.
Namun, pengelolaannya belum ditentukan menjadi tanggung jawab siapa. Lain halnya dengan museum KAA, yang pengelolaannya jelas tanggung jawab Deplu.
“Baru museum KAA yang pengelolaannya menjadi tanggung jawab Deplu. Sedangkan untuk fisik, Gedung KAA, belum ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab. Sampai sekarang, belum jelas siapa yang mengelola bangunan KAA,” ujar Elias.
Pada kesempatan terpisah, Wakil Gubernur Jawa barat Dede Yusuf mengaku, Pemprov Jabar sudah mengalokasikan dana bagi perawatan Gedung Merdeka. “Tapi kami tidak bisa mencairkannya karena ketidakjelasan statusnya. Setelah semua jelas, mungkin bisa dicairkan,” ujarnya
(Dikutip : Dari berbagai sumber)
No responses yet
